SURABAYA, Indonesiajaya-news.com — Universitas Hang Tuah (UHT) resmi menjadi tuan rumah International Conference on Marine Technology (Martec) 2026, ajang konferensi internasional yang mempertemukan peneliti, akademisi, dan pakar kemaritiman dari lima negara.
Martec 2026 diikuti oleh peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Bangladesh, dan Vietnam. Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi UHT untuk memperkuat jejaring akademik sekaligus kolaborasi riset di bidang kelautan dan kemaritiman.
Rektor UHT, Laksamana Muda (Purn) Dr. Ir. Avando Bastari, M.Phil., M.Tr.Opsla., IPM., ASEAN Eng., menegaskan bahwa terpilihnya UHT sebagai penyelenggara Martec 2026 semakin memperkuat posisi kampus sebagai perguruan tinggi yang berorientasi pada sektor kelautan dan kemaritiman di tingkat internasional.
“Melalui Martec 2026, UHT semakin menegaskan komitmennya di bidang kelautan dan kemaritiman agar kian dikenal luas secara global. Momentum ini juga memberikan kesempatan emas bagi dosen-dosen kami untuk berkolaborasi riset langsung dengan ilmuwan internasional,” ujar Avando di sela-sela kegiatan Martec 2026 di kampus UHT, Surabaya, Rabu (7/10/2026).
Menurut Avando, kolaborasi riset berstandar internasional tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas publikasi ilmiah sekaligus menghasilkan teknologi terapan yang memberikan manfaat bagi masyarakat, pemerintah, maupun sektor industri.

Inovasi Teripang Emas hingga Alat Penyelamat Laut
Dalam kegiatan tersebut, UHT turut memamerkan sejumlah riset unggulan kemaritiman dari berbagai fakultas.
Salah satu riset yang menarik perhatian berasal dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UHT. Riset tersebut memanfaatkan ekstrak teripang emas serta bahan organik hasil laut untuk mendukung pengembangan kesehatan gigi dan penguatan tulang.
Selain bidang kesehatan, UHT juga memperkenalkan inovasi teknologi keselamatan kelautan berupa prototipe alat penyelamat otomatis bagi penumpang kapal yang jatuh ke laut.
“Alat penyelamat otomatis ini kami kembangkan berbasis teknologi tinggi untuk menjawab maraknya insiden kecelakaan kapal di laut. Harapan kami, lewat kerja sama pentahelix antara akademisi, pemerintah, industri, dan komunitas masyarakat, produk inovasi ini kelak dapat diproduksi secara massal,” terang Avando.
Energi Terbarukan, Lingkungan hingga Pertahanan Laut
Sementara itu, Ketua Panitia Martec 2026, Prof. Dr. Bagyo Suwasono, FRINA, menjelaskan bahwa Martec merupakan konferensi dua tahunan yang penyelenggaraannya bergilir antarnegara.
Menurut Bagyo, Martec 2026 mengangkat sejumlah isu strategis, mulai dari pemanfaatan energi terbarukan, termasuk potensi energi angin, pelestarian ekosistem pesisir dan mangrove, hingga pengembangan konsep ekonomi biru (blue economy).
“Isu yang didorong meliputi kebutuhan energi masa depan dan lingkungan pesisir. Tahun ini giliran Indonesia menjadi tuan rumah, dan gelaran Martec berikutnya kemungkinan bergeser ke India atau Bangladesh,” kata Bagyo.
Selain persoalan lingkungan dan energi terbarukan, Martec 2026 juga membahas pengembangan teknologi pertahanan laut dan kedirgantaraan.
Dalam bidang tersebut, UHT turut menjajaki kerja sama riset selama lima tahun bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas pengembangan teknologi serta riset terapan di sektor strategis.
Partisipasi mahasiswa UHT juga diarahkan untuk mendukung agenda tersebut melalui berbagai penelitian dan Tugas Akhir (Skripsi) yang berkaitan dengan penguatan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir.
Martec 2026 sekaligus menjadi ruang bagi akademisi, peneliti, pemerintah, industri, dan masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam menjawab berbagai tantangan kelautan dan kemaritiman di masa depan.(Arifin)













