SURABAYA, Indonesiajaya-news.com – Universitas Hang Tuah (UHT) menggelar Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan Kesiapsiagaan Tanggap Darurat Laboratorium bagi Civitas Akademika sebagai upaya memperkuat budaya keselamatan, khususnya dalam aktivitas kerja dan penggunaan laboratorium di lingkungan kampus.
Bertempat di Hall Lantai 6, Gedung Pulau Ndana Fakultas Farmasi Universitas Hang Tuah acara dibuka oleh Dekan Fakultas Farmasi UHT, Prof. Dr. apt. Suko Hardjono, M.S. Pelatihan menghadirkan dua narasumber dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), yakni Yauwan Tobing Lukiyono, S.S.T., M.T. dan Merry Sunaryo, S.K.M., M.KKK.
Dalam paparannya, Yauwan menekankan bahwa K3 bukan sekadar upaya menangani kecelakaan setelah terjadi, melainkan terutama mencegah kecelakaan dengan mengenali dan mengendalikan potensi bahaya sejak awal. Sikap menganggap remeh risiko menjadi salah satu faktor yang dapat memicu kecelakaan kerja.
Menurutnya, laboratorium memiliki berbagai potensi bahaya, antara lain bahan kimia dan biologis, listrik, mekanik, kebisingan, suhu, ergonomi, hingga faktor kesehatan mental. Karena itu, setiap pengguna laboratorium perlu memahami karakteristik lingkungan kerja, mengenali simbol bahaya, menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai risiko, serta mematuhi aturan dasar seperti tidak makan dan minum di laboratorium.
Kesiapsiagaan juga harus didukung dengan prosedur yang jelas, tanda keselamatan, jalur evakuasi, titik kumpul, serta tim yang memiliki kompetensi dan mendapatkan pelatihan khusus. Pemahaman terhadap klasifikasi bahan berbahaya, seperti toksik, korosif, iritan, mudah terbakar dan mudah meledak, juga menjadi bagian penting untuk mencegah kesalahan dalam penggunaan maupun penyimpanan bahan.
Sementara itu, Merry Sunaryo menekankan bahwa penerapan K3 di perguruan tinggi tidak hanya berkaitan dengan keselamatan, tetapi juga perlindungan kesehatan dalam jangka panjang. Setiap laboratorium memiliki karakteristik risiko yang berbeda sehingga diperlukan proses identifikasi dan penilaian berdasarkan aktivitas, bahan yang digunakan, tingkat paparan, serta kemungkinan terjadinya insiden.
Merry juga mengingatkan pentingnya penggunaan Safety Data Sheet (SDS) atau Material Safety Data Sheet (MSDS) sebagai rujukan dalam memahami karakteristik, potensi bahaya, penanganan, dan penyimpanan bahan kimia. Pengendalian risiko, menurutnya, tidak seharusnya hanya mengandalkan APD, tetapi dilakukan secara berjenjang mulai dari menghilangkan atau mengganti sumber bahaya, pengendalian teknis (engineering control), pengendalian administratif melalui SOP dan pengaturan kerja, hingga APD sebagai lapisan perlindungan terakhir.
Selain risiko kecelakaan, aspek kesehatan yang sering tidak terlihat secara langsung juga perlu mendapat perhatian. Suhu, kebisingan, ergonomi, posisi kerja, beban kerja, stres, serta faktor psikososial merupakan bagian dari risiko yang perlu diidentifikasi dan dikendalikan.
Melalui pelatihan ini, UHT mendorong agar K3 tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi budaya keselamatan yang diterapkan secara konsisten oleh seluruh civitas akademika. Kesadaran terhadap bahaya, pengendalian risiko, penggunaan fasilitas keselamatan, serta kesiapan menghadapi keadaan darurat diharapkan mampu menciptakan lingkungan kampus dan laboratorium yang aman, sehat, dan produktif.
Keselamatan bukan hanya prosedur ketika terjadi keadaan darurat, melainkan budaya yang harus dibangun sebelum risiko menjadi kecelakaan.












