Pendidikan

UHT Gelar Ujian Terbuka Doktor Administrasi Publik, Angkat Model Kolaborasi Berkelanjutan Wisata Bahari Tlocor

1455
×

UHT Gelar Ujian Terbuka Doktor Administrasi Publik, Angkat Model Kolaborasi Berkelanjutan Wisata Bahari Tlocor

Sebarkan artikel ini

SURABAYA, Indonesiajaya-news.com — Universitas Hang Tuah (UHT) melalui Program Studi Doktor Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), menggelar Ujian Terbuka Promosi Doktor atas nama Hendra Sukmana, S.A.P., M.KP., Senin (10/8/2026). Dalam ujian tersebut, Hendra mempresentasikan disertasi berjudul “Kolaborasi Governance Dalam Pengembangan Wisata Bahari Tlocor Berkelanjutan di Kecamatan Jabon Kab. Sidoarjo.”

Disertasi tersebut mengangkat persoalan pengembangan kawasan Wisata Bahari Tlocor yang memiliki karakteristik pengelolaan kompleks karena melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Kawasan tersebut berkaitan dengan Pulau Lusi, kawasan sungai, wilayah pelabuhan, pemerintah desa, pemerintah kabupaten, pemerintah pusat, kelompok masyarakat, pengelola wisata, hingga pihak lainnya.

Hendra menjelaskan, perkembangan Wisata Bahari Tlocor tidak dapat dilepaskan dari terbentuknya Pulau Lusi pascabencana lumpur Sidoarjo. Pulau tersebut kemudian dikembangkan, antara lain melalui penanaman mangrove dan berbagai aktivitas wisata, hingga menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Sidoarjo.

Namun, di balik potensi tersebut terdapat tantangan berupa kompleksitas kewenangan multipihak, koordinasi lintas sektor yang belum optimal, serta belum sepenuhnya terformalisasinya kolaborasi antarpemangku kepentingan. Kondisi tersebut menjadi dasar penting bagi penelitian untuk merumuskan model kolaborasi governance yang dapat mendukung pengembangan wisata secara berkelanjutan.

Dalam penelitiannya, Hendra mengelaborasikan sejumlah perspektif collaborative governance, antara lain pemikiran Ansel dan Gash serta Emerson, dengan teori pembangunan berkelanjutan. Model tersebut digunakan untuk melihat bagaimana pemerintah, pemerintah desa, BUMDes, Pokdarwis, perguruan tinggi, masyarakat, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya dapat membangun kerja sama yang lebih terintegrasi.

Nilai Budaya Lokal Menjadi Temuan Penting

Salah satu temuan penting yang dikemukakan dalam disertasi tersebut adalah new local cultural value, yakni nilai budaya lokal yang menjadi fondasi dalam membangun dan mempertahankan kolaborasi.

Hendra menemukan bahwa harmonisasi budaya Jawa dan Madura, semangat gotong royong, serta rasa memiliki secara kolektif menjadi modal sosial yang memperkuat keberlangsungan pengelolaan Wisata Bahari Tlocor.

Menurutnya, keberlanjutan kolaborasi tidak cukup hanya dibangun melalui kelembagaan dan regulasi formal. Rasa memiliki masyarakat terhadap destinasi wisata serta kesamaan visi menjadi bagian penting yang menentukan keberlanjutan pengelolaan.

Temuan tersebut menjadi bagian dari novelty penelitian, yaitu pengembangan model collaborative governance integratif dengan memasukkan new local cultural value sebagai dimensi yang memperkuat principled engagement, shared motivation, dan capacity for joint action.

Dengan pendekatan tersebut, pembangunan wisata tidak hanya diarahkan pada peningkatan kunjungan wisatawan, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi lokal, pengembangan UMKM, serta penciptaan lapangan pekerjaan.

Legalitas dan Kolaborasi Menjadi Kunci

Penelitian juga mencatat sejumlah faktor pendukung pengembangan Wisata Bahari Tlocor, antara lain potensi kawasan yang khas, sinergi pemerintah daerah dan pemerintah desa, kejelasan legalitas Pulau Lusi, keterlibatan perguruan tinggi, dukungan agenda pemerintah daerah, serta meningkatnya motivasi ekonomi masyarakat.

Sementara itu, beberapa faktor penghambat masih perlu mendapat perhatian, terutama ketidakjelasan kewenangan antarpihak, belum optimalnya koordinasi lintas sektor, fluktuasi kunjungan wisatawan, ketergantungan terhadap event tertentu, serta kebutuhan penguatan aspek legalitas dan investasi.

Hendra merekomendasikan penguatan kelembagaan lokal, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan ekonomi masyarakat, serta penguatan keberlanjutan lingkungan. Ia juga mendorong agar nilai budaya lokal menjadi bagian penting dalam model pengembangan destinasi wisata berbasis masyarakat.

Disertasi tersebut diharapkan dapat memberikan pedoman bagi pemerintah daerah, pemerintah desa, BUMDes, Pokdarwis, perguruan tinggi, sektor swasta, dan investor dalam membangun kolaborasi yang berkelanjutan di kawasan Wisata Bahari Tlocor.

Ujian terbuka tersebut menghadirkan sejumlah penguji dari lingkungan internal maupun eksternal UHT. Tim penguji eksternal terdiri atas Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si., Guru Besar FISIP Universitas Airlangga, dan Prof. Dr. Ir. Hana Catur Wahyuni, M.T., Wakil Rektor I UMSIDA. Sementara penguji internal dan jajaran promotor berasal dari FISIP serta FTIK UHT.